Tautan

Title : Don’t Cry

Author : @tium_ara a.k.a Siwonara a.k.a Tium a.k.a. El_fara

Main Cast : Seungri, Han Minji (OC)

Support Cast : Tuan Han as Minji’s appa, Riri (OC), Nara (OC)

Rating : PG-13

Genre : romance/friends, oneshoot, Seungri, happy ending, songfic

Length : 3.091 words

Warning! : yang SIDERS pergi jauh!

Ps : sebenernya ini bisa dibilang songfic, tapi aku gak mau tulis songfic di judulnya karna mau bikin perasaan yang berbeda saat membacanya. Dengan selesainya ff ini dalam 2 jam, membuktikan bahwa menulis itu tidaklah mudah. Terkadang ide yang menumpuk malah membuat bingung cara penyalurannya dan suatu cerita yang sudah ditinggal lama akan lebih sulit diteruskan.

Disclaim : tokoh Seungri milik Tuhan YME tapi semua karakter dan cerita disini adalah punya saya. Jangan ngaku-ngaku!

Recommend song : Don’t Cry

“Mashita!” seru kedua insan yang sedang menikmati es krim mereka sambil berangkulan dan tertawa bahagia. Kelihatan sekali, mereka sedang dimabuk asmara di usia mereka yang muda.

“mau coba super Roller Coaster?” tantang sang namja sambil mengedipkan mata pada yeoja di sebelahnya. Pandangan yeoja itu langsung menatap wahana yang sangat besar dibandingkan tubuhnya yang mungil. Awalnya ia ragu, tapi karna merasa tertantang, ia pun mengangguk mantap dan menarik tangan namja yang menawarinya.

“Ayo!”

✖✖✖

“gomawo untuk hari ini. Aku sangat senang. Kuharap kita bisa menjalani hubungan kita seperti hari ini, dibawa suasana bahagia.” Seungri menatap yeoja mungil di depannya. Selesai sudah kencan mereka hari ini. Seungri sudah mengantar yeoja itu sampai di depan rumahnya sebelum jam 7 malam. Memang, waktu kadang bisa menjadi hal yang menyebalkan saat ialah yang membuat ada suatu perpisahan. Dan berapa lama pun waktu yang dilalui Seungri dan Minji tak akan cukup bagi mereka berdua, tapi sebagai namja baik, Seungri tidak mau terlihat buruk di depan keluarga Minji dengan membawa Minji pulang larut malam.

“Gwenchana, oppa!” Minji semangat sekali menatap wajah Seungri sebelum Seungri pergi. Padahal besok mereka berdua bisa bertemu lagi sepulang Minji sekolah.

Seungri seakan tidak mau pergi dari hadapan Minji, ia malah mengeratkan genggaman tangannya di tangan Minji. “sampai ketemu besok..” ucap Seungri dengan wajah tak rela. Melihat wajah tak rela Seungri, Minji tertawa kecil.

“ne, oppa sekarang harus pulang. Sudah malam. Besok jangan lupa jemput aku, ne?! dan telpon aku jika sudah sampai rumah!” Minji melepas tangan Seungri dan membiarkan Seungri cepat berbalik pergi.

“ne, algeusumnida.” Balas Seungri bercanda. “aku pulang dulu, oke?” Minji mengangguk.

Setelah sosok Seungri menghilang di belokan blok rumahnya, Minji masuk ke rumah sambil bersenandung riang. Ia gembira sekali hari ini. Sudah lama ia tak pergi ke taman bermain dan kebetulan kekasihnya mengajaknya kencan di taman bermain. Hari ini benar-benar tak terlupakan. Minji tak sabar untuk mandi dan masuk kamar untuk menunggu telpon dari Seungri.

“Han Minji..” panggil seorang pria berwibawa setengah baya saat Minji melewati ruang keluarga. Minji menoleh heran dan lekas menghampiri orangtua satu-satunya itu semenjak ibu mereka meninggal dunia 3 tahun lalu.

“ne, appa. Ada apa?”

“appa akan memberitahumu sesuatu yang sangat mendadak. Maaf appa baru mengatakannya sekarang. Appa terlalu sibuk sejak eomma tak ada.” Appa Minji membuka pembicaraan serius. Minji hanya diam tidak menanggapi karna terlalu penasaran dengan topic utama pembicaraan ini.

“ternyata eommamu masih punya keluarga di Jepang. Ia adalah Halmeoni-mu. Nenek sudah sangat tua dan ia membutuhkanmu, cucu satu-satunya untuk berada di sampingnya. Sudah cukup selama appa dan eomma bersama, appa tidak tahu apapun tentang keluarga eomma-mu selain yang di Korea. Appa ingin membahagiakan ibu dari ibumu, Minji. Kita harus mengurusnya. Appa sudah siapkan semuanya untuk keberangkatan kita tengah malam ini.” Minji melotot setelah tahu apa maksud pembicaraan ayahnya. Ia merasa ia tidak siap, ia tidak rela. Bukan karna ia tidak mau bertemu neneknya ataupun mengurusnya, tapi karna ia belum siap dan sama sekali tidak siap meninggalkan semuanya, kehidupannya di Korea. Seumur hidupnya, tidak pernah sekalipun ia meninggalkan Korea meskipun appa dan eommanya semasa hidup sering bertugas keluar negeri, tapi Minji tidak pernah mau meninggalkan Korea barang seharipun.

Dan kini ia harus meninggalkan dunianya yang sempurna disini dan menetap di Jepang dalam waktu yang tidak ditentukan? Ia tahu, appanya akan menyerahkan urusan halmeoni ke Minji, jadi mustahil baginya untuk bolak-balik ke Korea sesering yang ia bisa.

“appa…” Minji menatap ayahnya tidak percaya.

Ayah Minji ternyata juga sudah berkaca-kaca. “appa tahu kau tidak rela meninggalkan semuanya di Korea. Pasti kau tidak mau kehilangan sosok Seungri, Riri, Nara dan teman-temanmu yang lain. Tapi appa sudah mempersiapkan semuanya, appa tahu kau pandai berbahasa Jepang. Appa tahu kau sangat mengenal negeri itu karna ternyata tanpa disadari eomma-mu selalu membuatmu mendalami tentang Negara kelahirannya itu.

“appa…” Minji langsung merosot lemas. Tak pernah ia merasakan kehilangan sesakit ini selain saat eommanya pergi untuk selamanya. Ternyata tidak mudah meninggalkan. Rasanya lebih sakit daripada saat ditinggalkan. Tapi rasa sesak di dadanya juga membuatnya berfikir bahwa ia harus membuat ayahnya bahagia dan bangga padanya seumur hidup. Ia tidak pernah sekalipun membuat ayahnya kecewa. Sungguh Minji tidak ingin meninggalkan semuanya di sini, tapi ia juga tidak bisa menolak atau membantah permintaan ayahnya karna ia tahu itu pasti sangat menyakitkan untuk ayahnya.

“Minji.. Appa harap kau mengerti. Lekaslah bersiap. 3 jam lagi pesawat kita take off.” Appa Minji berbalik menuju ruang kerjanya sambil sesekali mengusap pipinya. Minji hanya bisa terduduk lemas di lantai ruang keluarga.

Aku menjumpai lagi satu perpisahan. Benar kata orang, setiap perjumpaan selalu ada perpisahan. Dulu aku kehilangan eomma, dan tak lama aku bertemu dengan Seungri oppa. Di perpisahan itu aku juga menjumpai satu lagi pengisi hidupku seolah ia pengganti eomma menemani hariku. Tapi kini aku yang harus meninggalkan mereka, meninggalkan semuanya. Kenapa aku harus meninggalkan? Padahal aku sangat tidak suka ditinggalkan. Di perjumpaanku dengan Seungri oppa, mungkin inilah perpisahannya.

Seungri mencoba tersenyum menenangkan diri setelah berpikir cara apa yang akan ia pakai untuk membuat Seungri melupakannya, melupakan kenangan mereka selama 2 tahun ini. Meskipun sungguh seluruh hati Minji tidak ingin satu sisi dari Seungri melupakan sosoknya. Tapi otaknya menyuruhnya bersikeras membuat Seungri melupakan sosoknya agar Seungrinya tidak terlalu sakit.

Ia meremas handphonenya. Di layar itu sudah ada kontak nama Seungri. Ragu ragu Minji ingin menelpon namja itu. Banyak sekali yang sedang ia pikirkan dan pertimbangkan sekarang. Ia sudah memberitahu seluruh sahabatnya sebelumnya dan mereka menangis serta bersikeras menemui Minji sebelum Minji berangkat. Tapi Minji melarang mereka semua untuk datang karna ia tidak mau kedatangan sahabat-sahabatnya itu membuatnya goyah. Ia harus kuat di hadapan ayahnya dan juga di depan sahabat baiknya.

Ya, satu jam sebelum perjalanan ke Incheon Airport Minji habiskan untuk berpikir cara yang tepat mengabari temannya dan mencoba menahan tangis saat mengucapkan perpisahan di telpon. Tapi soal namja ini. Ini terlalu berat. kenyataan bahwa Seungri begitu baik padanya, begitu tepat Tuhan pertemukan dengannya saat eomma pergi dan membuat Minji agak lemah.

Minji mengurungkan niatnya untuk menelpon Seungri. Ia terlalu takut mendengar suara Seungri yang nantinya pasti akan membuatnya bersikeras untuk tetap tinggal. Ia mencoba menulis pesan singkat pada Seungri dan berkali-kali menghapusnya karna ia merasa tidak ada kata yang tepat.

Akhirnya ia membutuskan menulis kata-kata bohong dan sangat berbalik dengan hatinya yang pasti membuat Seungri merasa ‘sakit’. Ia terburu mengetik kata-kata itu sebelum Seungri sampai rumah dan menelponnya dan akhirnya ia akan mengangkat panggilan dari Seungri dan menangis.

Maaf oppa, aku tidak pernah mencintaimu atau menyukaimu. Terima kasih jika kau sudah menganggap dirimu sebagai orang yang paling berjasa mengembalikan semangatku setelah eomma pergi. Maaf aku sudah memanfaatkanmu.

LOVE seems to change so easily,

In place of our own greed, a painful scar is left,

Gotta let you go

Tidak dapat terelakkan Minji menitikan air mata saat mengetik kata-kata menusuk itu. Rasa sakit di hatinya makin parah setelah ia menyentuh tombol SEND di layar handphonenya.

I guess I was not really the person for you

I couldn’t hold back my stupid heart

Which pained you

Minji langsung mengambil kertas dan menulis banyak kata disana sembari menangis. Ia menitipkan surat itu pada salah satu penjaga rumahnya dan menitipkannya untuk sahabat-sahabatnya karna ia yakin pasti besok teman-temannya itu mendatangi rumahnya. Ia langsung teringat dengan handphonenya dan langsung melepas baterainya agar tidak ada yang bisa mengubah pilihannya untuk membuat ayahnya bahagia.

Here is the end for the both of us,

And until the world would allow our love then,

“ayo, appa. Kita berangkat.” Minji menuruni tangga dengan pelan seakan meresapi setiap langkahnya, mengingat aroma rumahnya, menghapal setiap sudut tempatnya tinggal selama hampir 18 tahun terakhir. Mengingat semua kenangan hidupnya di rumah itu. Saat ia bercanda dengan appanya dan tertawa bersama dengan eomma.

It’s okay baby please don’t cry,

This long journey is about to end.

But someday, we will meet again,

In the next life, we will see each other again

Appa Minji memaklumi Minji dengan tidak mengungkit-ungkit masalah temannya dihadapannya. Apalagi masalah Seungri. Ia tahu anaknya sangat mencintai pemuda baik itu. Tapi sayang, waktu dan keadaan memisahkan raga mereka yang masih muda. Appa Minji yakin, suatu saat jika memang Seungri ada untuk Minji, mereka berdua akan bertemu lagi kemanapun mereka pergi sekarang.

Di tempat lain Seungri sedang mengutuk baterai handphonenya yang mati saat ia sampai rumah dan ia telalu lelah untuk menghidukannya sambil diisi baterai. Jadi ia hanya mengirim email lewat tabletnya pada handphone Minji dan menyatakan ia sudah sampai rumah dengan selamat dan terlalu lelah untuk menelpon.

Setelah itu Seungri mandi dan langsung bergelung di selimutnya sambil memikirkan semua hal membahagiakan hari ini dan juga hari-hari membahagiakannya dengan Minji selama hampir 3 tahun ini. Seungri tertidur di kasurnya dalam senyumnya dan Minji mencoba tidur di bangku pesawat dengan senyum mantap tapi menyeramkan karna terlalu dipaksakan.

✖✖✖

“Seungri sunbae!” panggil Riri saat ia dan Nara melihat Seungri sedang berjalan di sekolah mereka.

“ne. waeyeo?” tanya Seungri. Riri dan Nara tidak menjawab dan malah menyerahkan kertas putih yang tulisannya sudah luntur. Seungri menatap kedua teman kekasihnya itu dengan heran dan terkejut mendapati mata keduanya membiru seperti habis bertengkar dengan jagoan sekolah. Tapi karna sifatnya yang tidak mau mencampuri urusan orang lain, Seungri pun tidak bertanya sampai Riri dan Nara meninggalkannya dengan kertas putih itu sementara mereka berjalan dengan tidak semangat.

Seungri langsung teringat pada Minji yang tidak terlihat diantara mereka berdua. Ia memutuskan untuk mencari Minji dulu dan menyimpan kertas tadi di tasnya. Setelah berkeliling sekolah Minji dan mendapat kenyataan dari orang-orang bahwa Minji tidak masuk hari ini, Seungri langsung bergegas menuju halte bis. Di perjalanan ia berinisiatif menelpon Minji untuk menanyakan alasannya tidak masuk hari ini. Dan kenyataan bahwa ia kangen mendengar suara Minji langsung.

Tapi betapa terkejutnya ia saat membuka pesan dari Minji yang ternyata ia lewatkan saat tadi pagi menghidupkan handphone. Dengan berlari secepat yang ia bisa, Seungri malah melewatkan halte bus dan menuju rumah Minji yang tidak jauh dari sekolahnya.

Di pintu gerbang, ia sudah tidak menemukan ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Padahal baru semalam Ia mengantarkan Minji pulang diawasi oleh banyak penjaga rumah. Tapi saat ia berusaha membunyikan bel rumah itu, sudah ada petugas keamanan lingkungan yang menghampirinya.

“maaf, dik. Tapi Pak Han dan anaknya sudah pindah. Dan penjaga rumahnya yang terakhir tinggal juga menyusul tadi pagi setelah menemui 2 teman Han Minji. Mereka sepertinya pindah jauh. Mungkin keluar negeri…” terang petugas keamanan itu dan Seungri langsung kehilangan arah. Pandangannya kini memutar kejadian-kejadian selama ia bersama Minji. Seungri tahu bahwa pesan menusuk dari Minji semalam adalah perasaan yang membohongi diri Minji sendiri. Menghubungi Minji rasanya percuma.

Seungri sangat menyesal untuk tidak menghiraukan rasa lelahnya dan menelpon Minji semalam. Mungkin Minji masih di Korea dan setidaknya ia masih sempat mengucapkan kata-kata manis yang ia simpan selama ini untuk Minji selama Seungri mengenalnya.

Ingin sekali ia menangis di tengah jalan ini, tapi entah mengapa rasa sesak di dadanya malah membuatnya tidak bisa mengeluarkan air mata dan merasa ingin berteriak. Saat Seungri sudah merasa bahwa ia harus meluapkan emosinya dengan berteriak, suaranya tidak keluar sama sekali. Ini terjadi saat Seungri biasanya merasa sangat tertekan. Dan itu artinya sekarang ia sangat tertekan sehingga tidak dapat mengeluarkan suara.

Ia berlari ke halte bus dan ingin cepat sampai rumah karna ia sudah tidak tahu mau melakukan apa dan ia takut kalau ia luntang-lantung di jalan yang sering Ia lewati bersama Minji, itu malah membuatnya melakukan hal-hal yang tidak-tidak.

Di bus ia membuka kertas yang diserahkan 2 sahabat Minji. Mungkin mereka sudah membacanya lebih dulu,

Sarangeun neomu shwipge byeonhaeman gatjyo

Seoro yokshim soke apeun sangcheoman nama gotta let you go

(and please don`t cry)

 

Naraneun saram cham geudaeyegen motdwaejyo

Babo gateun nae mameul mot japgo neol apeuge haetjyo

(and please don`t cry)

 

Yeogikkajiga uri duri ggeutingayo

Sesangi uril heoralhal ddae geuddae kkajiman

 

It`s OK baby please don`t cry

Ginagin yeohaengi ggeutnatjiman

Ddo eonjengan maju chigetji

Da-eum sesangeseo ggok dashi manna~ ha ha ha mm

 

Haruga meolge urin mae-il datweotjyo

Geuddaen mweoga geuri boonhaet deonji mae-il bameul wureotjyo

(Baby I cried)

 

Neo raneun saram cham naegen muship-haetjyo

Gilko ginagin bameul jisaeneun nal hollo duweotjyo

(Baby I cried)

 

Yeogikkaji~ga uri duri ggeutingayo

lyricsalls.blogspot.com

Sesangi uril heoralhal ddae geuddae kkajiman

 

It`s OK baby please don`t cry

Ginagin yeohaengi ggeutnatjiman

Ddo eonjengan maju chigetji

Da-eum sesangeseo ggok dashi manna (dashi manna~)

 

Gakkeum nunmuri nal chaja-ol ddaemyeon

Areumda weotdeon uril giyeok halgeyo

Geudae deo isang apeuji marayo jebal

And please don’t cry

 

It`s OK baby please don`t cry

Ginagin yeohaengi ggeutnatjiman

Ddo eonjengan maju chigetji

Da-eum sesangeseo ggok dashi manna

 

It`s OK baby please don`t cry

Ginagin yeohaengi ggeutnatjiman

Ddo eonjengan maju chigetji

Da-eum sesangeseo ggok dashi manna

Bukannya menuruti isi surat Minji untuk tidak menangis, Seungri malah menangis. Ya, ia benar-benar menangis dan akhirnya bisa mengeluarkan air mata. Ia menangis di dalam bus yang sepi menuju rumahnya.

Everyday, we are blinded by our anger,

What we were fighting about every minute,

I cried every night,

Baby I cried

 

All the long nights

I stayed up late crying,

I spent them all alone

Baby I cried

Seungri merasa ia bukanlah orang yang pantas untuk Minji karna sekarang ia tidak bisa berbuat apapun untuk mengejar Minji. Ia tidak berani mengambil keputusan untuk mencari Minji dan memeluknya sekarnag juga. Tapi Seungri merasa cintanya adalah hal yang terbaik untuk Minji. Cintanya pada Minji adalah suatu hal terbanyak yang pernah ia berikan pada orang lain dengan ikhlas setulus hati.

Seungri bertekad untuk menjadi seseorang yang sangat sukses untuk menyusul Minji. Ia harus menyiapkan diri untuk menemui ayah Minji dan meminta Minji menjadi istrinya. Entah mengapa ia yakin bahwa Minji masih menunggunya di Jepang. Menunggu kehadirannya.

Ya, Seungri akhirnya tahu kalau Minji berada di Jepang. Tapi Seungri belum berani menampakkan diri di depan Minji sebelum ia menjadi pemuda yang ia impikan. Padahal rasa rindunya pada Minji sudah sangat membuncah.

Sometimes, when tears come to me,

I remember our beautiful memories

I hope that you won’t be hurt more,

And please don’t cry

EPILOG

5 years ago…

“Han Minji is back! You know? Our star Is Korean! I never guess it! And now, she will comeback after her grandma passed away..”

“is she Korean girl? Wow! J-Pop star is Korean! Actually she will get easy way to success here..”

Minji melangkah mantap di sepanjang airport. Ruang tunggu yang penuh karna kehadirannya yang ternyata adalah kembali ke kampung halaman. Semua fansnya dari Korea dan juga Negara lain telah menunggunya, memastikan bahwa seorang bintang Jepang ternyata adalah orang Korea asli!

Minji melambai ramah pada semua fansnya. Sudah digelar red carpet untuk jalurnya keluar. Tapi ternyata tidak hanya ia dan rombongannya saja yang melangkah melalui karpet merah, tapi ada seorang pemuda dengan jas mahal dan penampilan menawan yang sepertinya juga baru turun dari pesawat yang sama dengan Minji. Ia salah jalur! Begitu menyadarinya, ia melakukan hal bodoh dengan menerobos rombongan. Nama Jihan terus dielu-elukan. Itu adalah nama panggung Minji yang membawanya terkenal.

Sementara sang bintang terus menebar senyum, ternyata ada seseorang yang menyenggolnya dengan cukup keras sehingga ia menoleh. Mata mereka bertemu. Saling menyadari posisi dan siapa mereka satu sama lain, mereka berdua hanya beradu pandang tanpa melakukan hal lain. Orang-orang tidak menyadari ada hal aneh karna mereka menyangka pria berjas itu adalah bagian dari bodyguard Jihan.

This long journey is about to end.

But someday, we will meet again,

In the next life, we will see each other again

Merasa sudah hilang dari keramaian, sang pria mewah itu menyunggingkan senyumnya yang menggoda. Tapi sayang, senyumnya itu sudah dimiliki satu orang saja dan ia sendiri yang mematenkannya dengan langsung mencium wanita yang ada dihadapannya. Siapapun dan menjadi apapun Minji sekarang, namja itu tetap menganggap Minji adalah Minjinya yang mungil, kuat, tegar dan selalu ingin membuat ayahnya bahagia.

Ya, mereka bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Di kehidupan dimana Minji lebih dikenal dengan nama Jihan dan Seungri yang terkenal di kalangan pebisnis dunia. Pemegang saham terbanyak di bidang pariwisata Korea dan Jepang. Sepertinya cerita baru mereka akan segera dimulai. Tapi pastinya kali ini lebih mulus tapi juga lebih melibatkan banyak ‘korban’.

Dari jauh Tuan Han tersenyum melihat ada pemuda yang mencium gadisnya yang kini menjadi bintang dengan berani. Mungkin kalau dipikir hanya pria brengsek yang berani melakukan hal itu, tapi menurut pandangan Tuan Han selama ini, hanya pria itu yang berani mencium Minji sekarang karna mereka sudah menjaga cinta dan semua yang mereka miliki masing-masing untuk dibagi bersama suatu saat nanti. Dan sekaranglah saatnya.

Tuan Han ternyata ada di balik layar setiap gerak-gerik Minji dan Seungri selama 5 tahun terakhir.

END

Ya, ya.. gue tau ini agak gak dapet feelnya tapi gue udah mencoba sebaik mungkin untuk menandingi 2 ff gue sebelumnya. Entah kenapa gue suka sama cerita yang alurnya mengandung suatu genre HURT tapi gue gak suka SAD ENDING. Itu gak seru! Gak semua HURT berakhir SAD, kan? Jadi gue selalu membuat karakter sedih dan terluka lebih dahulu di setiap ff gue dibalik sosok karakter-karakter ceria yang ada di ff gue. Untuk yang pernah membaca 2 ff gue sebelumnya, I want to be your heartguard dan Cause you look like her makasi ya.. semoga kalian menemukan sisi gue yang baru di ff kali ini. Sejauh ini ff gue selalu berakhir bahagia, kok!

O ya, untuk yang nanya siapa bias gue sebenarnya, bias utama gue adalah Super Junior Siwon dan Sungmin. Tapi selama ini gue belom pernah kepikiran bikin ff tentang mereka karna sulit membuat karakter dan imej mereka di ff gue dan juga original character cewek karna gue gak terlalu suka idola gue dipasangin sama idola cewek lain L oke? Buat yang suka, baca… buat yang gak suka, pergi aja, buat yang gak suka tapi terlanjur baca, lo bisa tulis kekecewaan lo dari ff ini di kolom komentar atau TL twitter gue di @tium_ara maaf kalo kalian nemuin typo, tapi karna gue adalah penulis yang sangat hati-hati dalam mengetik, jadi semoga tidak terjadi salah penulisan

Untuk yang belom tau lirik lagu apa yang gue tulis diatas, itu adalah single Park Bom-Don’t Cry. Dengerin aja deh, lagunya emosional banget..

Iklan

[FF ficlet] I want to be your heartguard

Title : I want to be your heartguard

Author : @tium_ara a.k.a Siwonara a.k.a Tium a.k.a. El_fara

Main Cast : Lee Hyuk Jae, Donghae

Support Cast : Kyuhyun, Sungmin, Taemin, Leeteuk, Siwon

Rating : Teenager deh pokoknya!

Genre : romance/friends, oneshoot, Super Junior, Happy Romance, Heteroseksual

Warning! : ini bukan Yaoi! Donghae jadi cewek disini

Ps : aku adalah author baru di dunia perFFan, sebenarnya ini FF oneshoot pertamaku tapi malah yang ketiga selesai karna udah kelamaan hiatus nih FF. comment yang bagus, ya! Siapa tau kita bisa jadi teman ^^

Disclaim : jangan dicopy, ya.. meskipun gak bagus-bagus banget tulis “credit” ya..

Langit malam itu mendung. Tak ada bintang atau bulan yang menyinari langit kota itu. Seorang yeoja mendesah. Ia menyesali karna langit malam itu tidak membuat moodnya membaik. Ia mengingat kejadian hari ini

~flashback~

Donghae berjalan cepat kea rah perpustakaan sekolah. Ia sangat mem-butuhkan satu buku kesastraan untuk menyelesaikan tugas Bahasanya. Berkali ia menabrak punggung orang-orang di depannya. Namun ia hanya meminta maaf cepat. Sepertinya tugas itu sangat penting sehingga yeoja cantik itu sangat terburu-buru.

“Sungmin~ah.. jangan seperti itu..” Donghae mendengar suara yang dikenal-nya saat ia melewati taman belakang. Seketika ia berhenti. Donghae berjalan mundur untuk memastikan dugaannya.

Ia benar, seorang namja tampan berambut coklat gelap itu sedang bercanda sambil sesekali tertawa karna dikelitik yeoja mungil disampingnya. Mereka terlihat sangat dekat dan mesra. Seketika itu juga Donghae merasa terluka.

Dulu Kyu adalah orang yang sangat berharga untuk Donghae. Dan sekarang pun masih begitu ternyata. Padahal ia dan Kyu sudah berpisah sekitar 3 bulan. Tapi Donghae tidak bisa membohongi perasaannya yang masih mengarah pada Kyuhyun yang disayanginya.

“nanti main ke rumahku sajalah..” terdengar bisikan Sungmin pada Kyuhyun di telinga Donghae. Tapi selanjutnya ia tidak melihat atau mendengar suara kedua orang yang telah menyakitinya itu karna ia berlari. Donghae berlari secepat mungkin kea rah perpustakaan sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, menahan tangis.

~flashback end~

Ya, yeoja itu bernama Donghae. Kini ia sedang menutup jendelanya tidak puas karna tidak menemukan satu pun bintang menghiasi langit. Yeoja itu baru saja memasuki Chung hakyo-high school tahun ini. Ia sedang menikmati masa-masa SMAnya meskipun pada bulan-bulan awal ia harus merasakan patah hati karna putus dengan kekasihnya setelah berpacaran hampir 2 tahun.

Ia cantik. Donghae juga pintar dan supel. Ia disukai teman-teman angkatan-nya dan juga guru-guru di sekolah. Jadi, ia menjalani masa SMA dengan senang dan mencoba menghapuskan rasa sakit hati dengan bergaul dan belajar serta mengasah bakat-bakatnya.

Tapi satu kelemahannya adalah menghapus perasaanya pada seorang namja yang kini telah menemukan penggantinya. Rasa suka yang masih bertahan itu sangat membebaninya. Seperti hari ini, ketika ia tak sengaja bertemu dengan sepasang kekasih itu, Donghae langsung merasa sakit pada ulu hati.

Setelah mencoba menghapus ingatan hari ini di taman belakang dengan melukis, Donghae pun tertidur lelap di sofanya yang biasa ia buat tempat duduk melukis karna itu lebih nyaman daripada duduk di kursi keras khusus melukis.

~Hyuk POV~

Hari ini aku lagi-lagi melihat wajah Donghae sendu saat memasuki perpustakaan. Bahkan ia tidak menyadari keberadaanku di rak tempat dia mencari buku. Padahal seingatku akhir-akhir ini ia sudah tidak berwajah seperti itu lagi. Terakhir aku melihatnya berwajah seperti mayat hidup itu kapan, ya.. mungkin 2 minggu yang lalu? 1 bulan? Ah, 2 bulan yang lalu. Aku ingat sekali musim dingin saat itu.

~flashback~

Hari ini adalah hari-hari akhir musim dingin. Natal sudah berlalu. Aku senang sekali dengan udara yang sudah mulai menghangat.

Oh ya, sekarang aku sedang berada di jalan raya, berjalan menuju halte bus untuk pulang ke rumah. Hari libur kali ini sangat menyenangkan. Aku seharian berjalan dan belanja dengan sahabatku, Siwon. Sudah lama sekali aku tidak berbelanja banyak seperti ini. Maksudnya, hari ini aku bukannya menghambur-hamburkan uang seperti kebanyakan orang saat berbelanja banyak tapi hari ini aku membeli kebutuhan-kebutuhanku selama sebulan kemudian. Biasanya aku akan membeli sesuatu saat persediaanku di apartemen habis.

Tapi hari ini berbeda. Siwon yang lebih perhatian terhadap kehidupannya mengingatkanku dan membantuku mencari barang-barang yang kubutuhkan agar aku tidak usah membeli kebutuhanku secara ‘menyicil’. Aku membeli makanan, peralatan mandi, sprei yang tidak pernah kuganti sejak aku pindah ke Seoul 3 bulan lalu, sepatu, kemeja, baju-baju rumahan, sandal rumah dan banyak lagi. Yang jelas, belanjaku kali ini seperti saat berbelanja dengan eomma. Terperinci dan sesuai rencana. Jadi lumayan hemat juga.

Aku bersiul ringan sambil terus berjalan menenteng banyak kantong belanja yang ringan-ringan. Karna apartemen Siwon dekat dengan mall tadi, jadi aku tidak ada teman jalan ke halte bus. Tapi tak apa, aku sedang dalam good mood hari ini.

Seseorang menabrak lenganku. Cukup keras, sehingga aku kaget. Tapi tak sampai membuat kantong belanjaanku di tangan kanan terjatuh.

“ah, mianhae..” ujar yeoja yang menabrakku kaget juga. Ia mengucapkannya sambil menunduk. Tapi aku hapal suaranya karna aku selalu membuatnya mengutuk dan menjerit di sekolah.

“Donghae-ssi?” tanyaku memastikan sambil memerhatikan wajahnya yang tertunduk. Orang ini mendadak tersentak dan mendongak. Ada tanda tanya dan rasa senang di hatiku saat melihatnya yang memang Lee Donghae.

“ne. ha? Hyuk pabo?” katanya lemah.

“ya! Jangan menyebutku bodoh. Yang menabrak itu siapa?” aku langsung tersulut emosi.

“aku kan sudah minta maaf..” katanya lemah lagi. Aku jadi merasa bersalah. Kelihatannya hari ini ia masih seperti di sekolah kemarin-kemarin, tidak mempunyai semangat hidup. Bahkan sudah hampir sebulan ini ia membiarkan saja saat aku menjahilinya. Ia tidak membalasku sehingga keadaan menjadi tidak asyik.

“arasseo, arasseo. Eh, Donghae, mau minum kopi tidak? Aku tahu café yang menjual kopi enak. Mau kutraktir malam ini?” eh, kok aku mengajaknya minum? Sungguh tadi aku berkata tanpa sadar. Aku langsung saja menyesali ajakanku sendiri. Aku takut ia menolakku dan menyangka yang tidak-tidak.

Donghae mendongak lagi menatapku heran. Tuh kan, memang salah tadi aku mengajaknya minum bareng. Pasti ia menolaknya. Eunyuk pabo! Tidak tahu diri!

“baik. Aku mau.” Ia tersenyum. Aih, kenapa tiba-tiba dada ini bergetar hebat melihat gadis itu menarik ujung-ujung bibirnya. Apalagi saat aku sadar kalau setidaknya aku akan menghabiskan malam ini dengan minum di café bersama Donghae, tambah panas rasanya pipiku. Tapi aku langsung sadar dan bersikap biasa lagi. Aku mengajaknya ke café langgananku yang letaknya tak jauh dari sini.

“hmm.. apa yang kau lakukan di luar malam-malam begini?” tanyaku gugup untuk memulai pembicaraan karna daritadi Donghae diam saja entah memikirkan apa.

“ah.. aku sudah pergi dari sore tadi. Tapi.. aku tidak ingat aku pergi kemana saja.” Jawaban Donghae yang ragu-ragu membuatku bingung juga. Entah kenapa, jawabannya itu membuatku merasa harus mengembalikan senyumnya lagi. Padahal aku selalu mengganggunya di sekolah dan senang sekali membuatnya berteriak marah. Tapi itulah perasaanku, aku ingin senyumnya yang kulihat saat kami menjadi murid baru kembali.

~flashback end~

Nah, itulah terakhir kali aku melihatnya seperti orang kebingungan. Tapi kenapa tadi siang ia seperti itu lagi?”

Aku rasa, aku tidak mau lagi melihat bibirnya ditarik kebawah. Semoga saja, besok senyum angel itu kembali lagi. *eh, angel? Apa yang aku fikirkan tadi? Aku menyebut Donghae malaikat?*

~Donghae POV~

Kenapa aku malah memikirkan mereka? Orang-orang yang sempat membuat-ku kehilangan senyuman. Harusnya aku mengerjakan tugas Bahasaku!! Bagaimana ini? Ini sudah jam setengah 12!

***

Kriiing!! Kriiingg!!

“hoam…” eh, sudah jam berapa ini? Jam 6? Huah! Padahal aku baru tidur 3 jam, lho! Kenapa sih waktu gak bisa dikorting?

Gedubrakk!

Bodo amat lah, aku langsung bersiap ke sekolah. Saat menoleh ke kamar, kulihat beberapa barang terjatuh dari tempat seharusnya. Seperti jam weker, beberapa kacamata hitam, baju-baju berceceran, yah, mau gimana lagi? Aku seudah terlambat, jadi aku hanya tersenyum miris melihat keadaan kamarku.

“ya! Donghae~ah! Ada apa dengan kamarmuu?” aku mendengar suara Leeteuk umma saat aku mengambil sandwich di meja makan. Haha, ternyata umma sedang menengok kamarku. Kabur aah~~

“bye bye umma~” seruku sambil berlari secepat mungkin keluar rumah. Appa yang sedang baca Koran di ruang tamu menyerngit heran melihatku dan mendengar teriakan umma. Aku hanya membalas dengan senyum semanis mungkin.

***

~author POV~

Donghae masuk ke kelasnya dengan dandanan manis. Padahal saat ia keluar rumah tadi wajahnya pun belum terpoles dengan bedak. Ternyata ia berdandan di bus.

“annyeong~~” sapanya manis pada seluruh kelas. Tapi penghuni kelas sekarang baru berjumlah 5 orang. Jadi yang membalas salamnya hanya 5 orang itu.

“annyeong Donghae~ah..” balas mereka. Tapi salah satu dari mereka membalasnya dengan tatapan heran. Ya, dia adalah Eunhyuk. Ia melihat kea rah Donghae yang terlihat sangat sumringah. Ia heran padahal kan kemarin ia baru saja melihat Donghae yang seperti putus cinta.. eh.. apa yang difikirnya tadi? Donghae yang terlihat seperti putus cinta? Kenapaa ia bisa berfikir seperti itu? Memangnya Donghae baru putus cinta..

“ya Donghae! Kau dandan di bis ya?” tanya Eunhyuk iseng.

“ha? Memangnya kenapa?” Donghae langsung panic. Segera saja tangannya meraba-raba wajahnya. Eunhyuk terkikik melihat wajah gugup Donghae.

“ini.. lipstickmu berantakan~” Eunhyuk menyentuh pipi putih dan lembut Donghae. Donghae merasakan goresan benda halus di pipinya. Setelah itu Eunhyuk terrtawa makin geli sambil langsung menghindar dari Donghae. Donghae yang merasakan ada yang tidak beres langsung berlari ke toilet di samping kelasnya dan mencari cermin.

“huaaaa!! Ya Eunhyuk pabo!” donghae langsung berlari lagi ke kelasnya. Melihat Eunhyuk yang sedang tertawa hebat di bangkunya menambah emosi Donghae naik. Langsung saja dikejarnya orang yang membuat ujung bibir sampai pipinya merah seperti belepotan lipstick itu.

Dengan sigap Eunhyuk melarikan diri dan membuat mereka berdua jadi tontonan murid yang sudah mulai berdatangan. Ada yang tertawa, ada yang terkikik, bahkan ada yang bersuit suit melihat kedekatan mereka.

***

Hari-hari Donghae kini terasa makin berharga karna sepertinya harapan dan usahanya untuk membuat Donghae tersenyum sudah membuahkan hasil. Tiap hari mereka tertawa dan itu membuat perasaan Donghae sekarang sudah sangat baik. Ia mulai merasakan getaran aneh yang berusaha ia tepis setiap kali bersama Eunhyuk.

Donghae tidak mau hubungan mereka yang santai seperti ini rusak karna perasaan khusus Donghae pada Eunhyuk.

~Donghae POV~

“hae-ah, aku akan ada di depan rumahmu sepuluh menit dari sekarang. So, wait for me.” Telpon pun langsung diputus. Apa sih maunya monyet itu? Lagi-lagi ia ke rumahku saat hari sudah sangat sore begini. Hampir gelap dan aku merasa aneh berjalan dengannya saat gelap.

Aissh.. kenapa sih aku ini? Selalu begini saat Hyuk memberi perhatian? Aku.. tidak mau sikapnya berubah karna perasaanku padanya. Oke, aku akan mengakui kalau aku sudah mulai menyukai Hyuk sejak ia tiba-tiba menjadi baik padaku—padahal biasanya… kau tahu lah—menjadi sangat melindungiku, menghiburku saat moodku sedang jelek.

Dengan tampang konyolnya itu, mana mungkin aku menolak kebaikannya dari awal? Tapi sekarang? Bagaimana ini! Aku harus menghapus perasaanku agar Hyuk tetap bersikap seperti ‘ini’ padaku.

“ya! Kenapa kau menarik-narik rambutmu, ha?” Leeteuk eonni berbicara padaku? Siapa yang menarik-narik rambu…t. ups, kulihat pantulan diriku di cermin. Astaga! Apa yang kulakukan sehingga rambutku ini jadi terlihat seperti sarang burung, he?

“kau jelek sekali seperti itu!” ternyata Leeteuk eonni masih di depan pintu kamarku dan berkomentar sambil tertawa. “kau gembel..” ya! Apa yang ia bilang?!

“yak! Leeteuk eonni!!!” seruku sambil memegang bantal di belakang kepala. Aku sudah siap menimpuknya dengan bantal berat ini.. tapi sial!

Blamm!

Ia sudah terlanjur membanting pintu kamarku dan berlari setelah sebelumnya menjulurkan lidah padaku.

“pabo ya!”

***

“mian Donghae, sepertinya aku tidak bisa menjemputmu. Bisakah kau langsung saja ke taman tempat kita bermain biasa?” ujarnya di telepon. Oke, mau tidak mau aku harus sendiri ke taman itu dengan bis karna sepertinya aku sudah begitu ingin bertemu dengannya.

“eonni! Aku mau main dulu.” Pamitku sambil berteriak dari pintu depan. Kudengar ia membalas teriakanku. “ne!!”

Apa-apaan ini? Kok tempatku dan Eunhyuk bermain jadi tempat berkumpulnya anak gaul seperti ini?

“Donghae!” Eunhyuk.. Omo! Kenapa ia terlihat sangat berbeda? Ia sangat.. keren? Ani, mungkin karna penampilan dan gayanya berubah. Ia terlihat sangat gaul.. kufikir temannya hanya games online dan teman nyatanya hanya anak-anak penggemar games online juga, tapi sekarang tempat favoritku dan Hyuk ini berubah menjadi arena untuk skateboarding, dance, dan graffiti.

Eunhyuk mendekatiku sambil membawa skateboard dengan gaya seperti rapper gaul—gaya topi kesamping dan celana pendek maksudku. Aku menatapnya bingung sekaligus tidak suka. Kufikir, aku akan berduaan dengannya, tapi ternyata seperti ini, ia membawa banyak temannya untuk bermain bersama kami. Apakah ia bosan hanya mengobrol di bangku taman denganku?

“Donghae, kau suka skateboard?” tanyanya polos. Apa ekspresi tidak suka yang kutunjukkan ini tidak terlalu jelas?

“tidak.”

“baiklah kalau begitu. Aku akan membuatmu menyukainya.” Ia mengenggam tanganku dan sedikit menariknya ke dekat arena bermain skateboard yang keren.

~Hyuk POV~

Aku sudah mempersiapkan segalanya. Tapi karna urusan yang harus kuselesaikan, aku jadi meombak rencananya dan akibatnya aku jadi tidak bisa menjemput ia di rumah karna harus mengurusi setiap perencanaan ini.

Kulihat Taemin sedang men-cat skateboardku dan memberi graffiti tulisan yang kuinginkan. Aku tersenyum puas.

“ya! Hyuk hyung, kenapa kau malah diam saja? Bantu aku mengajari mereka gerakan!” Minho berteriak memanggilku. Apakah ia tidak bisa menjadi dongsaeng yang baik? Charismanya itu palsu!

“ne,” ujarku lemas sambil menghampirinya. Tapi seketika badanku yang kubungkuk-bungkukkan agar terlihat kelelahan jadi kembali tegak melihat seseorang sedang celingak-celinguk di depan taman. Kulihat awalnya semua temanku disini memperhatikannya, tapi setelah melihat wajah yeoja yang mendekat itu semakin jelas mereka langsung kembali ‘pura-pura’ asyik kembali dengan part mereka.

“Donghae!” Panggilku sewajar mungkin. Ia terlihat tidak begitu aman. Apa ia sudah tau rencanaku dan membuatnya ilfeel padaku melihat caraku ini? Aish, sudahlah, aku sudah menyiapkan segalanya dan tidak mungkin pengungkapan perasaan batal hanya karna takut ditolak.

Cowok mana yang takut ditolak, coba…

Disini, cowok itu ada disini dan takut ditolak oleh teman dekatnya. Dialah aku yang sedang mencoba bersikap datar saja. Ia cantik dengan sweater lengan panjang dan celana jeans pendek sepaha. Imut dan manis.

Aku menanyakan padanya apa ia suka skateboard atau tidak, tapi ternyata ia menjawabnya dengan dingin. Aku jadi ingin remuk sekarang. Kenapa sepertinya ia menunjukkan tidak suka?

“baiklah kalau begitu. Aku akan membuatmu menyukainya.” aku mengenggam tangannya dan sedikit menariknya ke dekat arena bermain skateboard.

Aku mendudukkannya di bangku semen yang paling stategis dan dekat dengan arena skateboard agar ia bisa melihat maksudku.

Dengan berdoa di dalam hati aku memulai rencana dan memberi aba-aba pada teman-temanku

***

Aku duduk di bangku dekat arena itu dan melihatnya kini berjalan ke arah arena bermain skateboard yang tak kutahu namanya. Aku tidak mengerti maksudnya. Mendudukanku di kursi taman dan bilang ia ingin membuatku menyukai skateboard? Namja gila! Aku tidak mengerti ini.

Blamm!

Sepertinya taman jadi gelap. Ah, tenyata anak-anak itu—teman-teman Hyuk—mematikan semua penerangan taman. Dan langit malam ini pun sepertinya sangat gelap meskipun bintang bertaburan indah.

Ya! Hyuk mau meluncur dari atas sana! Ia mau menunjukan permainan skateboardnya yang bagus padaku? Cih, aku tidak tersentuh. Toh aku tidak sama sekali mengerti tentang permainan atau olahraga skateboard ini.

Kok aku jadi judes sama Hyuk ya? Kenapa hari ini aku berbeda? Biasanya aku berbunga-bunga saat melihatnya dekat denganku. Tapi sekarang, di malam yang indah ini aku malah deg-degan tak tenang menunggu meluncurnya Hyuk Jae.

Eunhyuk meluncur saat aku menutup mata. Dan sekarang ia sedang berputar-putar mencoba agar skateboardnya juga ikut memutar sepertinya. Aku melihatnya dari sela-sela jari tanganku yang masih menutupi wajahku.

“Donghae, LOOK AT ME!!” serunya keras. Aku kaget. Apa dia tidak kehilangan tenggorokannya saat berteriak seperti itu, ya?

Kulihat ia loncat dari skateboardnya di udara yang sedari tadi menahan tubuhnya. Sontak aku langsung berdiri, takut terjadi apa-apa padanya. Aku mendekat ke arah arena skateboard. Lho, kenapa sekarang yang main hanya Eunhyuk? Bukannya tadi banyak, ya? Sejak kapan aku tidak memerhatikan keheningan di taman ini karna hilangnya orang-orang lain.

“yak! Hyuk pabo! Apa yang kau lakukan?! Cepat turun! Sebelum kepalamu itu terlepas di udara” aku balas meneriakinya panic.

Wuussh.. wuah, gerakannya keren sekali. Ia memutar papan dengan kakinya dengan gerakan lambat. Apa itu yang tertulis di bawah papannyaa? Aku bisa melihat jelas.

WOULD YOU BE MY GIRL, DONGHAE-SSI??

“apa-apaan kau ini? Cepat kita pulang. Aku mau pulang deh.” Aku shock sekali sepertinya. Campuran antara senang, kaget dan lega. Sampai-sampai aku bingung mau bicara apa dan malah menjudesinya tidak jelas. Padahal aku bahagia sekali, Eunhyuk!! Asal kau tahu itu… >.<

“nanti dulu, Donghae-ah! Aku serius. Tatap mataku.” Ia menahan kedua pipiku dan membuatku memandang wajahnya.

“aku mencintaimu, aku ingin melindungimu, harapan terbesarku adalah terus membuatmu tersenyum adalah kebahagiaan untukku.”

“…”

“aku ingin kau hanya memandangku dan kau juga mencintaiku. Aku ingin kita berkencan. Jalan-jalan untuk kencan, bukan untuk curhat saja.”

“…”

“saranghae, Hae..”

“nado, saranghaeyo, oppa..” Hyuk tercekat. Sebentar Hyuk bingung dan heran tapi akhirnya ia memberiku pelukan hangat. Tidak kusangka Hyuk benar-benar menyukaiku. Tadinya kufikir ia tidak menganggapku seperti itu meskipun kami mulai dekat sebagai teman. Senang rasanya hatiku sudah lega karna sudah tak ada rasa takut kehilangan Hyuk saat aku memberikan perasaanku sebenarnya.

Semoga keputusanku menerima Hyuk adalah pilihan yang tepat. Aku mulai mencintainya dan dia tahu cara membahagiakanku. Rasanya aku sendiri lupa sejak kapan memiliki perasaan special ini. Aku membutuhkan Hyuk untuk menemaniku dan menciptakan hari-hari indah

Tiba-tiba langit terasa sangat cerah saat aku ada di pelukannya. Aku mendecak kagum saat melihat lampu taman pun mulai menyala kembali dan graffiti-graffiti di taman ini bersinar-sinar dan anak-anak gaul teman-teman Hyuk tadi pun mulai menari Lucifer. Apa ini perasaan Hyuk saat aku dan dia sedang dekat ya?

FINAL..

Annyeong, Chingu.. gimana ceritanya? Maaf ya kalau kurang greget karna ceritanya tersimpan cukup lama teronggok begitu saja di laptop. Dan terserah kalo kalian bilang ini terlalu pendek atau gaje, baca aja kalo tertarik dank omen kalo ada bagian yang kalian suka atau kurang suka. Kalau banyak yang komen dan vote, aku mau post kelanjutan hubungan KyuMin dan EunHae. Belom pada tau kelanjutannya kan? Aku buatin sequel deh!

Tapi biar bagaimana pun kayaknya aku bakal tetep post kelanjutan kisah double couple ini.

Mian, kalau aku bukanlah writer yang asik, yang suka memberikan komentar-komentar seperti writer kebanyakan. Habis, aku rasa itu bukan aku banget…

Terima Kasih sudah membaca tulisan-tulisanku dan berkomentar.. ^^

Aku doain yang RCL bakal ketemu biasnya! Gak berani doain yg jelek-jelek deh buat yang gak RCL.. Aku usahakan balas komentar kalian deh!!

Maaf juga ya kalau WPku masih jelek. Aku buata cara desain WP bagus. Maaf kalau para reader agak kebingungan dengan halamannya karna ini WP masih sangat sederhana. Ayo dong.. Aku juga terima masukan dan ajaran kalian mendesain WPku agar lebih praktis. Dan ada yang mau ngajarin cara bikin laman-laman di WPku seperti library, tinggal dikirim ke tiara_city@ymail.com lewat email, FB ataupun twitter